Tampilkan postingan dengan label Inspirasi kanker payudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi kanker payudara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2015

Perjuangan Artis Rima Melati Melawan Kanken Payudara Hingga Sembuh

Kisah Bagaimana Aktris Rima Melati Mengobati Kanken Payudara Hingga Sembuh

Rima Melati Melawan Kanken Payudara Hingga Sembuh
Rima Melati Melawan Kanken Payudara Hingga Sembuh

 
Untuk anda penikmat film tahun 70 – 90an pasti kenal siapa Rima Melati, beliau adalah aktris papan atas di zaman itu. Hampir setiap film menggunakan aktris ini, karena memang dikenal dengan kemampuan aktingnya yang luar biasa. Beliau juga merupakan istri dari aktor papan atas di zamanya. Yaitu Frans Tumbuan. Rima pernah meraih Piala Citra juga pada Festival Film Indonesia tahun 1973 dalam kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Intan Berduri bersama Benyamin Sueb yang memperoleh penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam film yang sama.
Siapa sangka artis ini pernah terkena kanker payudara di masa lalunya. Ini membuktikan penyakin kanker payudara tidak pilih kasih. Siapapun dan dari kalangan manapun dapat terkena penyakit ini


Jadi mulai saat ini biasakan rutin memeriksakan salah satu aset berharga kaum perempuan ini. Karena lebih baik mencegah dari pada mengobati
 

Meski mengundang kematian dengan angka yang cukup tinggi, namun tidak semua perempuan gentar menghadapi penyakit kanker payudara. Salah satunya adalah artis Rima Melati yang bersemangat tinggi untuk tetap hidup setelah divonis kanker ganas saat usianya menginjak 50 tahun. Meski terserang kanker payudara stadium lanjut, bintang film kawakan ini berhasil sembuh dan kembali sehat. Kisah hidupnya inilah yang kini dikampanyekan pada masyarakat agar selalu waspada terhadap penyakit kanker.

Berbalut pakaian semi kebaya berwarna merah muda dan rok panjang bermotif batik, Rima Melati hadir di tengah masyarakat Kota Solo di acara seminar Waspada Bahaya Kanker pada Wanita yang digelar oleh Rumah Sakit Dr Oen Surakarta beberapa waktu lalu. Perempuan yang 22 Agustus tahun lalu genap berusia 70 tahun ini tampak selalu tersenyum di hadapan peserta dengan wajahnya yang masih terlihat segar. Pada kesempatan itu Rima bercerita panjang lebar perjalanan hidupnya mulai dari awal terserang kanker payudara hingga akhir penyakit itu hilang dari tubuhnya.
“Sebelum terkena kanker payudara, saat berusia 42 tahun saya pernah terkena kanker usus besar,” jelas Rima mengawali cerita. Namun, karena penyakit ini memiliki gejala yang bisa dirasakan, segera diketahuinya yang kemudian dilakukan operasi. Setelah sembuh, Rima kemudian kembali kepada kesibukannya sebagai seorang pemain film dengan jadwal syuting yang cukup padat. Pola hidupnya pun menjadi tidak teratur, seperti tidur yang kurang, makan serba siap saji, olahraga tidak teratur, dan lainnya.

Rima melati berhasil sembuh dari kanker payudara
Rima melati berhasil sembuh dari kanker payudara

Menurut Rima life style (gaya hidup) selama bertahun-tahun yang tidak sehat tersebut adalah salah satu faktor pemicu munculnya sel kanker yang menyerang payudaranya. Awalnya, Rima merasa tidak ada yang aneh dengan payudaranya, hingga suatu ketika merasakan ada sebuah benjolan kecil. Namun karena pada benjolan itu tidak sakit maupun nyeri, artis yang pernah menyabet berbagai penghargaan di dunia perfilman ini tak bercerita pada orang lain. “Ketika mengetahui adanya benjolan di payudara tidak ada hal yang saya lakukan selain membiarkannya. Karena pada saat itu informasi tentang kanker payudara masih sangat sedikit,” jelasnya.
Ketika pada akhirnya benjolan tersebut semakin membesar, Rima kemudian memberanikan diri bertanya kepada temannya yang kebetulan seorang dokter. Beberapa saat setelah diperiksa, kontan temannya tersebut marah karena benjolan yang ada sudah cukup besar. “Karena saya juga tidak tahu apa-apa, saya balik marah ke dia,” ujarnya.
Saat itu pula Rima diimbau untuk datang ke klinik dokter tersebut untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Namun, lagi-lagi karena dirinya tidak begitu memperhatikan dampak yang sangat fatal atas benjolan tersebut, pemeriksaan urung dilakukan.
Sudah Terlambat   
Beberapa hari kemudian Rima pun akhirnya bercerita pada suaminya, Frans Tumbuan perihal benjolan itu. Kontan, sang suami kaget dan marah, sama seperti yang dilakukan rekannya. Akhirnya Rima ditemani suami memeriksakan diri ke dokter yang kemudian dilakukan mamografi (pemeriksaan kelenjar payudara dengan sinar X). Dokter yang memeriksa Rima saat itu hanya terdiam, dan tidak berani menatap mata Rima, hingga kemudian sang dokter menjelaskan hasilnya sang suami. “Akhirnya saya pun mengetahui bahwa saya divonis kanker payudara dengan stadium lanjut, seketika itu juga yang terbayang adalah kematian,” kenang Rima.
Dikatakannya, saat divonis positif terkena kanker payudara sudah dalam keadaan terlambat sehingga payudaranya harus diangkat. Rima mengisahkan, semangat untuk tetap bertahan hiduplah yang membuatnya terus mencari usaha terbaik agar dapat tetap menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dicintai. 

Karena masih terbatasnya alat operasi di Tanah Air, saat itu dokter menyarankan agar Rima terbang ke Belanda untuk melakukan pengobatan. Di negeri Kincir Angin tersebut, operasi dilakukan dengan mengangkat separuh bagian payudara yang ditumbuhi sel-sel kanker. Pascaoperasi, beragam pengobatan pun dilakukan mulai dari terapi radiologi hingga puluhan kali kemoterapi.

“Saat dikemoterapi, seluruh badan terasa sakit yang luar biasa, perut mual hingga rambut mengalami kerontokan. Tetapi karena selalu terbayang anak-anak dan keluarga, saya tetap harus fight (berjuang) dengan kondisi ini dan saya harus sembuh,” terang Rima yang juga mengaku pernah menjadi pecandu rokok. Karena semangatnya itulah akhirnya tetap melakukan pengobatan hingga penyakitnya sembuh total dan dapat beraktivitas kembali.

Saat ini, di Indonesia kanker payudara menduduki peringkat dua untuk jumlah penderita setelah kanker mulut rahim. Sayangnya, penderita kanker payudara di Indonesia kerap berakhir dengan kematian. Rima memberikan tips sederhana, apabila istri, anak, atau saudara, bahkan kerabatnya menemukan sebuah benjolan tidak layak dalam tubuhnya maka segera periksakan ke dokter. “Ibu-ibu tolong jangan pergi ke mana-mana ketika mengetahui ada keanehan, langsung saja ke dokter,” imbaunya.

Sabtu, 19 Juli 2014

Kanker Payudara Di Indonesia

Kanker Payudara Di Indonesia. Kanker Payudara merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.  Menurut World Cancer Report  2008, kanker payudara merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada satu diantara lima perempuan di dunia.  Di Indonesia, dari data registrasi kanker, penyakit ini menduduki urutan pertama diikuti kanker mulut rahim, baik dilihat dari segi kekerapan maupun dari sudut angka kematian.  Sayangnya kanker payudara di Indonesia sering ditemukan pada stadium yang sudah lanjut padahal kanker payudara dapat ditemukan secara dini dengan pemeriksaan klinik dan mamografi.  
 
Masyarakat kita membutuhkan pelayanan terhadap penyakit kanker yang lengkap dengan biaya terjangkau karena penanganan pasien kanker payudara memerlukan peralatan2 kedokteran, fasilitas, serta obat-obatan yang mahal.  Sesuai dengan perkembangan penyakit kanker payudara di Indonesia, dirasakan perlu mendirikan sebuah yayasan sosial yang dapat memberikan pelayanan konseling, edukasi dan informasi terpadu, nyaman serta dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Dengan melihat kebutuhan masyarakat akan pelayanan informasi dan keinginan untuk membantu  pengobatan yang sangat mahal kepada para perempuan, terutama di Jakarta, yang terkena kanker payudara, maka pada tahun 2003, Ibu Linda Agum Gumelar meminta Dr.Sutjipto, Sp.B(K)Onk, untuk memikirkan model yayasan yang mempunyai misi untuk memberi edukasi mengenai pentingnya deteksi dini penyakit kanker payudara kepada masyarakat perempuan terutama di Jakarta dan sekitarnya maupun bantuan pengobatan kepada mereka yang terkena kanker payudara.  
Setelah meminta nasihat dari beberapa mantan penderita kanker serta beberapa dokter dalam bidang penyakit kanker, khususnya kanker payudara maka pada tahun tersebut dibentuklah tim untuk menyusun usulan pendirian yayasan sosial yang bergerak khusus dibidang penyakit kanker payudara.
Setelah selesai usulan tersebut  dan setelah disampaikan kepada ibu Linda Agum Gumelar untuk mendapat persetujuannya maka pada tanggal 19 Agustus 2003 terbentuklah Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta yang bersifat nir-laba dan yang merupakan mitra dari pemerintah Republik Indonesia dan yang akan bekerja sama dengan organisasi sosial lainnya, institusi pemerintahan dan swasta.  Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ)  mempunyai misi dan fungsi untuk memberikan pelayanan informasi mengenai bahaya penyakit kanker payudara kepada masyarakat perempuan khususnya di Jakarta dan sekitarnya dan juga membantu pengobatan yang merata bagi masyarakat, khususnya bagi pasien yang menderita kanker payudara.  

Kanker Payudara Di Indonesia
 

Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat dari sekian banyak kanker yang menyerang penduduk Indonesia, kanker payudara tertingi kasusnya di seluruh Rumah Sakit (RS).

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemkes, dr Ekowati Rahajeng, mengungkapkan permasalahan kanker di Indonesia tidak jauh berbeda dengan negara berkembang lainnya, yaitu sumber dan prioritas penanganannya terbatas. Penanganan penyakit kanker di Indonesia menghadapi berbagai kendala yang menyebabkan hampir 70% penderita ditemukan dalam keadaan sudah stadium lanjut.
Di antaranya masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit kanker. Ini terkait dengan umumnya orang mempercayai mitos. Misalnya, bahwa kanker tidak dapat dideteksi, tidak bisa dicegah dan disembuhkan.

"Pada kenyataannya dengan perkembangan teknologi saat ini kanker bisa dideteksi dini. Kanker juga bisa dikatakan sebagai penyakit gaya hidup karena dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat dan menjauhkan faktor risiko terkena kanker," kata Ekowati dalam temu media tentang Hari Kanker Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 4 Februari.

Baca Juga

Apakah Kanker Payudara Bisa Sembuh Total ?

Berikut Kisah Perjuangan Ibu Ika Yang Sembuh total dari kanker payudara

Setelah divonis mengidap kanker payudara, mental Ika Damajanti (32) langsung jatuh. Apalagi mendadak wajah wanita jelita itu menjadi hitam dan rambutnya pun rontok. Berkat dukungan suami tercinta, manajer Public Relation (PR) di sebuah hotel bintang lima di Surabaya ini berhasil melewati masa-masa sulit. Ditemani suami tercinta Iwan Sedijotomo (35), Ika menceritakan pengalamannya

Sama sekali aku tak pernah bermimpi bakal dapat cobaan yang cukup berat. Diam-diam, di payudaraku bersemayam bibit kanker ganas yang kalau tak segera diangkat, nyaris saja merenggut nyawaku. Tak kupungkiri, semua ini bisa dikata karena keteledoranku. Aku sok menggampangkan kesehatan. Nah, lewat pengalamanku, aku meminta kepada siapa pun, jangan sekali-kali mere-mehkan penyakit yang satu ini.

Sejak menikah tahun 2000, aku tak satu rumah dengan suamiku, Mas Iwan. Waktu itu, aku bekerja di salah satu stasiun teve swasta di Jakarta, sedangkan suamiku bekerja sebagai manajer pemasaran di salah satu rumah sakit internasional di Surabaya. Nah, saat itulah terkadang ada rasa nyeri di payudara kananku. Biasanya tak lama kemudian sirna. Aku menduga biasa saja.

Sebenarnya suamiku sudah menyarankan agar aku periksa ke dokter. Namun, aku sepelekan. Aku menganggap bukan penyakit serius. Sampai akhirnya, rasa sakit semakin sering terjadi. Kala itu, aku sudah pindah ke Surabaya untuk mendampingi Mas Iwan. Mertua dan suamiku menyarankan aku periksa ke klinik onkologi, yang khusus menangani kanker.

TARUHAN NYAWA
Beberapa hari kemudian aku datang ke sana. Aku ditangani oleh dokter Ario Djatmiko, salah seorang dokter yang cukup senior. Waktu datang aku masih tenang saja. Aku masih tetap yakin tak mengidap kanker seperti yang kami duga sebelumnya.
KLIK - Detail
Apalagi, saat pemeriksaan dilakukan, aku sempat baca brosur tentang kanker payudara. Di brosur itu disebutkan salah satu ciri kanker payudara. Selain kulit payudara jadi keriput seperti kulit jeruk, dari puting keluar cairan yang mirip nanah. Sementara, payudaraku tak ada tanda-tanda seperti itu.

Usai periksa aku masih tenang. Hasilnya baru ketahuan beberapa hari kemudian untuk menunggu hasil laboratorium. Dua hari kemudian, aku datang lagi untuk mengetahui hasilnya. Karena Mas Iwan sibuk di kantor, aku diantar ibu mertua. Entah kenapa, dokter tak menunjukkan hasilnya. Ia minta suamiku sendiri yang mesti mendampingi aku.

Segera kutelepon Mas Iwan yang masih di kantor agar segera menemani aku. Beberapa saat kemudian, Mas Iwan ke klinik. Hasil laboratorium ditunjukkan kepada kami. Dokter menjelaskan, payudaraku sebelah kanan, terdapat kanker ganas sebesar 2,5 cm. Dengan kondisi itu dokter mengklasifikasikan dalam stadium 2A.

Dokter minta agar segera dilakukan operasi. Kalau tidak, dipastikan kanker tersebut akan merembet ke organ-organ yang lain. Kalau sudah begitu, nyawa taruhannya. Mendengar vonis dokter, rasanya tubuhku tak bertulang. Batinku bergejolak tak karuan. Tanpa terasa air mataku sudah meleleh membasahi pipi.

Aku hanya diberi waktu empat hari untuk berpikir. Dokter menjelaskan, usai operasi bentuk payudara pasti akan berubah, tidak seperti sediakala. Bahkan, bisa jadi untuk menutup lubang bekas kanker, nanti bisa diambilkan dari otot di punggung. Hatiku benar-benar menangis mendengar ucapan dokter.

OPERASI BERJALAN LANCAR
Rasanya aku tak terima tubuhku tak sempurna lagi. Apalagi usia perkawinanku belum genap setahun. Ibaratnya aku belum puas menikmati bulan madu, masak bagian tubuhku yang paling berharga harus diangkat sebagian. Memang operasi itu demi menyelamatkan nyawaku, namun aku belum bisa menerima kenyataan. Bagian itu adalah mahkota bagi wanita.

KLIK - Detail Saat dalam perjalanan di dalam mobil, hatiku seperti dicabik-cabik. Air mata rasanya tak bisa berhenti menetes. Untung Mas Iwan tampak berusaha tenang meski kegelisahan juga terlihat di wajahnya. Yang membuatku heran, suami justu mendukung operasi. Dia sama sekali tak mempersoalkan bagaimana kelak bentuknya. Dia hanya berharap aku tetap selamat.

Sampai di rumah aku terus menangis. Aku tak mengerti kenapa diberi penyakit seperti ini. Sampai-sampai aku merasa ini bukan cobaan, tapi hukuman dari Tuhan. Siang malam aku tak pernah berhenti berdoa. Di saat seperti itu, suamiku kembali menguatkan batinku. Dia memberi dukungan penuh, agar aku tak ragu-ragu lagi untuk dioperasi. Dia mengatakan, nyawaku adalah segala-galanya.

Dukungan Mas Iwan yang begitu kuat, sedikit-demi sedikit menguatkan mentalku. Pada hari ketiga, aku sudah benar-benar mantap memutuskan untuk operasi. Namun, sehari menjelang operasi, aku masih punya tugas berat yaitu memberi tahu orang tua di Jakarta yang akan ke Surabaya. Mereka memang tahu aku mau operasi, tapi mengira hanya operasi ringan. Mereka juga akan menemaniku.

Malam menjelang operasi, bersama Mas Iwan, aku temui orang tua di hotel. Seperti yang kuduga sebelumnya, Papa dan Mama terkejut mendengar pengakuanku. Tapi, mengetahui
aku menyampaikan dengan perasaan tenang dan tak emosi, mereka bisa menerima.

Tepat tanggal 1 November 2000 pagi, aku masuk ruang operasi. Singkat cerita, operasi berjalan lancar. Berkat kemurahan Tuhan, operasi berjalan sekitar 3 jam, lebih cepat dari yang ditentukan semula yakni 4 jam. Aku cuma sehari menginap di sana. Selanjutnya, perawat datang ke rumah untuk membersihkan luka bekas operasi.

Jadi tidak usah khawatir karena kanker payudara bisa sembuh total

Lihat Juga

Bolehkah Menyusui Bagi Penderita Kanker Payudara

Bolehkah Menyusui Bagi Penderita Kanker Payudara ?
Memberikan ASI merupakan mimpi bagi ibu melahirkan yang peduli akan kesehatan anaknya. Namun, bila menderita tumor atau kanker payudara, boleh ibu menyusui bayinya dengan ASI?

Menurut dr. Utami Roesli, Sp.A, pakar laktasi dari RS Sint Carolus Jakarta, bila ibu yang baru melahirkan menderita tumor atau kanker payudara, dia tidak boleh menyusui bila mendapatkan pengobatan.

Namun, bila tidak menjalani pengobatan, sang ibu boleh menyusui bayinya dengan ASI.

 “Sebab, yang berbahaya itu obatnya, bukan tumor atau kankernya. Tumor atau kanker, kan, letaknya di luar saluran ASI, jadi tidak ada hubungannya dengan ASI,” katanya

Dokter anak yang juga disebut sebagai Pejuang ASI ini mengatakan, ia adalah seorang survivor kanker payudara. Dulu, tuturnya, setelah melahirkan anak, ia tetap menyusui bayinya karena ia tidak menjalani pengobatan. “Jadi, silakan saja menyusui kalau tidak mendapatkan pengobatan untuk tumor atau kankernya.”

Menurut dr. Utami Roesli, SpA, pakar laktasi, ibu dengan kanker payudara bisa saja menyusui anaknya. Pasalnya kanker mungkin berada bukan pada sel-sel pembuat ASI. Hanya saja, diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Pertama, ibu tidak dalam pengobatan dengan obat-obatan. Utami mengatakan, obat-obatan mengalir dalam darah yang bisa terlarut juga dalam ASI. Sehingga pemberian ASI ke bayi mungkin akan memberikan efek obat.

"Jika pengobatan bersifat radiasi, asalkan tidak saat mendapat terapi, ibu boleh saja menyusui," tuturnya.
Selain terapi radiasi, pengobatan yang bisa dilakukan untuk kanker payudara adalah lumpektomi. Karena pengobatan ini sifatnya yang tidak terlalu ekstensif sehingga tidak mempengaruhi kemampuan untuk menyusui.

Namun keadaan fisik ibu yang memiliki kanker payudara berbeda-beda sehingga membutuhkan konsultasi secara khusus pada dokter yang memeriksa. Apabila sel kanker mempengaruhi produksi ASI, maka diperlukan cara lain agar anak tetap mendapat ASI.
Sebagai alternatif, ibu dapat memberikan ASI dari payudara yang tidak terkena kanker. Dikhawatirkan produksi ASI lebih sedikit di payudara yang terkena kanker.
Utami mengatakan, ASI dapat memberikan kekebalan alami bagi bayi. Sehingga bayi dapat terhindar dari penyakit-panyakit, termasuk kanker di kemudian hari. Maka kanker yang diderita ibu, tidak akan menurun ke anak.

"Bahkan apabila ibu terkena infeksi ringan seperti influenza, ibu tidak akan menularkan bayi yang disusuinya berkat kekebalan alami yang dimiliki ASInya," imbuhnya.

 Lihat Juga

Jumat, 18 Juli 2014

Bahaya Tidur Dengan Bra - Pakai Bra Saat Tidur Bisa Menyebabkan Kanker Payudara loh

Bahaya Tidur Dengan Bra. Tidur adalah saat yang tepat untuk beristirahat dada dan wanita tidak harus menggunakan bra saat tidur, melepaskan bra saat tidur untuk mencegah kanker payudara. Menurut American Cancer Society, tidak ada bukti definitif menghubungkan tidur memakai bra bisa membuat wanita menderita kanker payudara, seperti dilansir Livestrong.

Bahaya Tidur Dengan Bra

Tetapi para ilmuwan Sydney Singer dan Soma Grismaijer istrinya pada tahun 1991 telah menulis dalam bukunya ‘Dressed To Kill, The Link Antara Kanker Payudara dan Bras, yang berisi tentang wanita yang ingin menghindari kanker payudara harus memakai bra dalam waktu sesingkat mungkin dan sebaiknya kurang dari 12 jam per hari.
Waktu terbaik untuk beristirahat payudara tanpa memakai bra adalah saat tidur, jangan tidur dengan bra, kata Sydney Singer, seperti dilansir dari chetday.
Menurut Singer Sydney, menggunakan bra yang terlalu lama dapat meningkatkan suhu jaringan payudara dan wanita yang memakai bra memiliki kadar hormon prolaktin (hormon yang berfungsi untuk merangsang kelenjar susu) lebih tinggi. Kedua hal ini dapat mempengaruhi pembentukan kanker payudara.
Selain itu, berlebihan, atau menggunakan bra bra terlalu ketat terlalu berbahaya untuk kesehatan karena dapat membatasi aliran getah bening di payudara. Biasanya, cairan getah bening mencuci limbah dan bahan beracun lainnya, dan menjauhkannya dari payudara.
Kedua ilmuwan mengatakan bahwa tidur adalah saat yang tepat untuk beristirahat dadanya dengan tidak mengenakan bra. Tidak hanya otot-otot saat istirahat, saat tidur tubuh meningkat dan detoksifikasi (racun). Tidur juga memberikan kesempatan bagi sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi hormon imunitas (kekebalan tubuh).
Hasil studi menunjukkan wanita yang memakai bra selama 24 jam sehari berisiko paling tinggi terkena kanker payudara, sedangkan wanita yang jarang memakai bra paling sedikit risikonya.
Perbandingan hasil studi tersebut menunjukkan :

Menurut dr. Utami, salah satu dokter di sebuah Puskesmas di Bekasi yang saya wawancarai, penggunaan bra ketika tidur tidak serta merta menjadi penyebab utama terjadinya kanker payudara. Penggunaan bra yang ketat dan berkawat saat tidur bisa menimbulkan adanya benjolan-benjolan kecil di payudara karena adanya tekanan. Benjolan tersebutlah (biasanya merupakan kelenjar lemak yang membengkak karena tekanan kronis) yang merupakan salah satu pemicu munculnya kanker payudara bagi mereka yang memiliki kecenderungan untuk mengidap kanker, sedangkan untuk mereka yang tidak memiliki kecenderungan (salah satunya dari faktor genetika) kemungkinan tersebut kecil, dan benjolan tersebut dapat hilang secara berangsur-angsur.

Baca Juga

Cerita Angelina Jolie Mengenai Penyakit Kanker Payudara

Sudah beberapa bulan berlalu sejak Angelina Jolie mengungkapkan pada dunia bahwa dirinya menjalani operasi pengangkatan kedua payudaranya demi menghindari risiko terkena kanker payudara yang memang diidap hampir seluruh garis keturunan Angelina sebelumnya.
Dan kini, Angelina tidak pernah merasa terganggu untuk bercerita tentang kondisinya pasca operasi. Saat meladeni wawancara dengan Entertainment Weekly, ibu enam anak ini bercerita tentang kesehatannya pasca operasi besar tersebut.

Kanker Payudara Angelina Jolie
"Aku merasa luar biasa! Aku sangat bahagia karena aku memilih keputusan itu. Aku sangat beruntung karena aku memiliki dokter yang hebat dan juga sangat beruntung karena aku bisa pulih dengan baik. Aku juga senang karena aku punya proyek seperti film Unbroken  untuk mengalihkan perhatianku dan bisa menjadi fokusku yang baru. Sekarang aku juga berkonsentrasi untuk pulih. Demi bisa kembali bekerja penuh," kata Angelina bersemangat.
Di bulan Mei 2013, Angelina secara terbuka menuliskan pandangannya dan dimuat oleh salah satu media besar di Amerika Serikat.
Angelina menjelaskan kondisi kesehatannya secara detail, termasuk mengapa ia memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan payudara. Sejak saat itu pula, Angelina tak ragu bicara ke banyak wanita untuk memotivasi mereka melakukan pemeriksaan dini demi mencegah kanker payudara.
"Aku merasa jauh lebih dekat dengan banyak wanita lain, terutama mereka yang mengalami hal yang sama denganku. Ke manapun aku pergi, biasanya aku bertemu banyak wanita dan kami berbincang soal masalah kesehatan, isu wanita, kanker payudara dan kanker ovarium. Aku juga banyak bicara dengan pria soal kesehatan putri dan istri mereka. Hal itu membuatku menjadi lebih dekat dengan banyak orang yang mengalami hal serupa," jawab Angelina lagi.
Memang sejak awal sebelum Angelina menuliskan surat terbukanya itu, ia sudah memutuskan untuk lebih banyak berbagi pengalaman dan kondisinya dengan banyak orang. "Alasan aku menulis itu adalah untuk bisa berkomunikasi dan menolong serta berhubungan dengan wanita dan keluarga lain yang sedang melewati hal yang sama. Dan aku sangat terharu dengan banyaknya dukungan yang diberikan banyak orang," kata tunangan Brad Pitt ini.

Dokter pribadi bintang Hollywood ini mengestimasi bahwa Jolie mempunyai risiko 87 persen mengalami kanker payudara dan 50 persen risiko mengalami kanker ovarium akibat gen yang diturunkan.  

Baca Juga

Pengalaman Andien Berjuang Melawan kanker Payudara

Andien. penyanyi muda yang baru saja merilis album baru ini ternyata pernah menderita kanker payudara di masa SMA. Tidak disangka ya, Andien yang terlihat sehat, pernah menderita kanker payudara. Andien mengatakan benjolan di payudara kirinya sudah ada sejak SMA, dan pada tahun 2002 silam, ia menjalani operasi pengangkatan kanker di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Pusat.

“Aku bingung bisa kena kanker payudara. Soalnya, nggakada sejarahnya di keluarga aku. Diagnosa dokter sih menyebut aku tuh kebanyakan makanjunk food,” tutur Andien. “Tumornya itunggak sakit,cuman menggangguaja.”
Sesuai saran dokter, kini Andien jauh lebih berhati-hati dalam mengatur pola makannya. Rokok, alkohol, dan makanan berlemak tinggi, merupakan sesuatu yang dihindari Andien. Mantan kekasih Andika Monoarfa itu tidak mau penyakitnya kembali datang dan mengganggu kariernya. Selain sibuk menyanyi, Andien juga berinisiatif untuk terjun ke kegiatan sosial terkait penyakit kanker payudara.
“Aku jadi duta untuk menyosialisasikan bahaya kanker payudara kepada masyarakat,” jelas Andien.
Nama perempuan bernama lengkap Andini Aisyah Hariadi itu mulai dikenal masyarakat, setelah ia meluncurkan album perdana bertajuk Bisikan Hati pada 2000. Sulung dari tiga bersaudara itu sudah mulai menyanyi sejak berusia tiga tahun dan berlatih vokal bersama Elfa Seciora di Sekolah Elfa Music Studio.

Pengalaman itu justru membuat Andien lebih waspada. Malah, dia mengajak para perempuan untuk mulai menjaga kesehatan payudara. Andien sekarang bergabung di gerakan Delapan, yaitu deteksi berkala payudara Anda.
Kalau saja saat itu tidak terkena usus buntu, mungkin dia juga tidak akan bilang ke dokter bahwa di payudaranya ada benjolan. Setelah diperiksa, ternyata itu merupakan tumor dan segera diangkat. "Saya sih enggak takut sama sekali ya. Justru orang tua saya yang khawatir. Sekali operasi, dua penyakit sekaligus," lanjutnya.

Andien menginap di rumah sakit memang karena penyakit usus buntu. Orang tuanya pun tidak tahu bahwa di payudaranya ada benjolan. Sejak itu Andien mengaku sangat concern dengan kesehatan payudara. Dia juga sering ikut acara yang berkenaan dengan kanker payudara. "Saya mau bergabung dengan gerakan ini karena ingin mengajak masyarakat waspada dan peduli dengan kesehatan payudara sendiri," ujarnya.

Pemeriksaan lebih dini bisa menyelamatkan penderitanya. "Kan bisa cepat diketahui dan cepat diobati. Pokoknya, kalau merasakan ada benjolan, buruan deh periksa ke dokter. Jangan nunggu-nunggu seperti saya," imbuhnya.

Penyanyi yang sudah membuat empat album itu mengakui bahwa dulu pengetahuannya tentang penyakit tersebut minim. Apalagi, saat itu masih remaja. Dulu yang dia tahu, usia remaja belum rentan terkena penyakit ini. "Ternyata, faktanya tidak begitu. Ketika saya masih 16 tahun kena juga. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut," tegasnya.

Sekarang, selain rajin memeriksa sendiri, Andien semakin sadar untuk menjalani hidup sehat. Makan sehat dan berolahraga teratur. "Pengobatan lebih lanjut cuma pemeriksaan berkala. Kata dokter, kalau sudah pernah kena, rentan untuk balik lagi," urainya.

Nah girls, belajar dari pengalaman Andien ya. Hindari Junk Food, karena junk food mengandung banyak lemak jenuh yang dapat menjadi trigger perkembangan sel kanker pada payudara. Banyak-banyaklah mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung antioksidan seperti strawberi dan apel.

Baca Juga


Kamis, 17 Juli 2014

Apakah Kanker Payudara Bisa Menular ?

Kanker mempunyai sifat yang dapat membentuk anak sebar atau metastase,sebagai contoh,seorang ibu menderita kanker di payudara di sebelah ketiak,paru-paru,hati,otak,dan organ lainya.karena itu,meskipun payudara telah di oprasi,si ibu tetap saja meninggalkan dunia karena anak sebarnya.

Kanker bisa sembuh pada setiap manusia mulai dari bayi sampai orang tua,tetapi yang paling sering menyerang adalah orang dewasa pada usia 30 an.kanker lebih banyak menular ke wanita di banding pria,perbandingan pria dan wanita=5-3.

pada wanita,paling banyak di temukan kanker pada mulut rahim,payudara dan hati.
Apakah kanker itu menular sebetulnya kanker tidak bisa menular yang menular adalah virusnya yang menular.sebagai contoh,kanker serfik dapat di sebabkan oleh HPV(human papilloma virus invection 18.dapat ditularkan melalui senggama.saat ini kita bersyukur karena ada vaksin untuk mencegah tertularnya virus HPV yang dapat di berikan pada usia10-50 tahun.

virus penyebab kanker hati yaitu virus hepatitis B juga dapat di tularkan melalui ludah pada peralatan makanan maupun ciuman dan urin.pengobatan dasar kanker ialah oprasi,penyinaran dan obat-obat kimia.

Hal yang menyebabkan sebagian besar penderita kanker datang terlambat adalah karena umumnya kanker stadium dini atau pemula tidak menimbulkan gejala dan biasanya tanpa rasa sakit sama sekali
Tak ada panas badan maupun nyeri sehingga kita tidak sadar akan ada kanker di tubuh kita. karena itu penting sekali mengetahui apa kanker itu,bagaimana mencegah dan apa-apa penemuan dini atau penemuan kanker pemula.

Jadi intinya kanker payudara bukan merupakan jenis penyakit menular, maka anda tidak perlu khawatir ketika harus kontak langsung dengan penderita kanker payudara. Jadi apabila ada anggota keluarga yang terkena penyakit tersebut anda tidak harus menghindarinya tetapi justru membantunya dalam mengatasi dan mencari cara untuk mengobati penyakit tersebut. Selain hal tersebut anda juga bisa memberikan dorongan moril atau semangat agar tidak pantang menyerah dalam menghadapi kanker payudara, anda juga bisa memberikan beberapa alternative untuk cara pengobatannya, seperti medis ataupun non medis dalam hal ini pengobatan alternative menggunakan bahan-bahan alami.
Oleh sebab itu jika ada sanak family ataupun mungkin anda sendiri yang mempunyai cirri-ciri dan gejala kanker payudara, segeralah periksakan ke dokter ahli agar bisa dilakukan pemeriksaan, proses pengobatan dan prosedur lainnya dengan cepat .

Baca Juga
Penyembuhan Kanker Payudara : Ternyata Kanker Payudara Bisa Sembuh Loh...
Pengalaman Penderita Kanker Payudara Stadium 4 Yang Bisa Sembuh
Gejala Awal Kanker Payudara - Kenali dan Waspadai

Tips Ibu Nia Menghadapi Kanker Payudara

Berikut kami akan memberikan bagaimana kisah Ibu Nia berjuang melawan penyakit kanker payudara. semoga kisah ini bisa memberikan inspirasi buat anda yang juga sedang berjuang mengobati penyakit kanker payudara.

Pasti menjadi hal yang menyedihkan bagi setiap wanita ketika dirinya didiagnosis terkena kanker payudara. Begitu juga yang dirasakan Zornia Harisantoso. Pada tahun 2010 ia dididagnosis kanker payudara, tapi dengan bersikap realistis dia bisa menghadapi penyakit yang dideritanya.

"Saya harus hadapi itu semua, mau enggak mau, kebetulan dokternya enak ngasih penjelasan bahwa setelah didiagnosa kanker saya harus melakukan apa saja, ya saya lakukan itu, meskipun memang biaya cukup jadi kendala ya," kata wanita yang akrab disapa Nia ini kepada detikHealth selepas acara talkshow 'Save Your Breasts Save Your Life' di Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (17/10/2013).

Pada tahun 2009, Nia sebenarnya sudah melihat adanya benjolan dan perubahan pada bentuk payudaranya. Tapi ia menunda untuk periksa ke dokter lantaran sibuk. Lama-kelamaan, dokter di tempat Nia bekerja menyarankannya untuk melakukan USG, benar saja ternyata ada tumor ganas di payudaranya.

"Senin saya periksa, selasa langsung dioperasi. Seminggu setelah operasi saya sudah ke kantor. Penyakit itu jangan ditakuti tapi jangan sombong juga dengan keadaan tubuh kita," papar Nia.

Setelah operasi, Nia juga harus menjalani enam kali kemoterapi. Efek samping kemoterapi berupa mual ia rasakan dua hari setelahnya, namun lama-kelamaan ibu dua anak ini sudah mulai bisa menyiasatinya dengan menyibukkan diri di kantor atau makan permen untuk 'melupakan' rasa mualnya.

"Tapi dua minggu setelah kemo, saya nangis pas keramas, karena waktu megang rambut itu rontok sampai segenggam. Saya langsung ke salon, nekat gundulin kepala dan kalau kerja saya pakai scarf," kisah Nia.

Diakui Nia, ia memiliki dua faktor risiko kanker payudara yaitu menstruasi usia 10 tahun dan ada riwayat kanker dalam keluarga. Eyang Nia meninggal karena kanker dan dua tahun sebelum didiagnosis kanker payudara, adik laki-lakinya meninggal karena kanker getah bening.

Baca Juga
Pengalaman Penderita Kanker Payudara Stadium 4 Yang Bisa Sembuh
Suwarni, Sosok Di Balik Terciptanya Alat Penyembuh Kanker Payudara
Posting Lama ►
 

Footer1

FOOTER 2

Footer 3